Alamat Kami
Jalan Terminal Jeunieb, Blang Mee Barat, Kec Jeunieb, Kab Bireuen
Alamat Kami
Jalan Terminal Jeunieb, Blang Mee Barat, Kec Jeunieb, Kab Bireuen

“Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantong ka putoh.”
Hadih maja nyoe sederhana bunyinya, tapi dalam maknanya. Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantong ka putoh. Ada sesuatu yang sudah lama rapoh, sehingga disentuh sedikit saja bisa patah, dibebani sedikit saja bisa putoh.
Kalau kita lihat keadaan Aceh kemarin, tanggal 15 Agustus, ketika Hari Damai Aceh kembali diperingati, suasana yang riuh dan berbagai suara yang muncul di tengah masyarakat sebenarnya bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Di baliknya ada sejarah yang panjang. Ada luka yang pernah dirasakan, ada kenangan yang masih tersimpan, dan ada pula cita-cita tentang Aceh yang sampai hari ini masih menjadi bahan pembicaraan.
Dua puluh tahun lebih damai sudah kita jalani. Senjata telah lama diam. Banyak anak Aceh hari ini tumbuh tanpa merasakan langsung bagaimana kerasnya masa konflik. Tapi sejarah tidak mungkin begitu saja dihapus dari ingatan.
Damai bukan berarti semua orang harus memiliki pikiran yang sama.
Ada ureung Aceh yang merasa cukup dengan perdamaian dalam keadaan sekarang. Ada yang menginginkan kekhususan Aceh diperkuat. Ada pula yang masih berbicara tentang cita-cita kemerdekaan Aceh. Semua itu adalah bagian dari dinamika pemikiran masyarakat Aceh.
Namun, hadih maja indatu mengajarkan kita sesuatu: jangan memegang sesuatu yang rapoh dengan cara yang kasar.
Kalau sebuah keadaan sudah mudah patah, maka yang dibutuhkan bukan menambah tekanan, tetapi kebijaksanaan. Bukan memperbesar perbedaan, tetapi mencari jalan agar perbedaan itu tidak kembali menjadi permusuhan.
Aceh sudah terlalu mahal membayar sebuah konflik.
Jangan sampai generasi muda hanya diwariskan rasa marah. Wariskan kepada mereka sejarah. Wariskan kepada mereka bahasa Aceh. Wariskan adat dan budaya. Wariskan semangat membangun Aceh. Dan yang paling penting, wariskan pengalaman bahwa damai jauh lebih berharga daripada pertikaian.
Aceh lon sayang, tanoh endatu.
Kita boleh berbeda dalam melihat masa depan Aceh. Kita boleh mempunyai cita-cita yang berbeda. Tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kita lupa bahwa tanah ini adalah tanah yang sama, tanah yang diwariskan oleh indatu kepada kita.
Bak ta mumat ka patah, bak ta meugantong ka putoh.
Mudah-mudahan hadih maja indatu nyoe bukan hanya menjadi kata-kata yang kita baca, tetapi menjadi pengingat untuk kita semua: bahwa sesuatu yang rapoh harus dijaga dengan bijaksana.
Damai Aceh jangan hanya diperingati setiap 15 Agustus.
Damai harus dijaga, sejarah harus diingat, dan masa depan harus kita pikirkan bersama.
Afifuddin, S.E.