Tupai Tgk Malem lam Ceumeucot Nanggroe Berdaulat

Oleh : Afifuddin

Aceh hari ini berdiri tegak di atas pondasi sejarah yang mahal, sebuah Nanggroe yang berdaulat secara regulasi, berselimutkan syariat, dan menggenggam otonomi khusus yang tak dimiliki sembarang tanah di Nusantara. Bendera-bendera wewenang dikibarkan tinggi-tinggi.

Anggaran triliunan rupiah mengalir deras mengisi pundi-pundi daerah, seolah memberi janji kemakmuran bagi rakyat yang sekian lama didera trauma konflik panjang. Namun, di balik megahnya status kedaulatan itu, ada sebuah ironi besar yang sedang menggerogoti pohon kekuasaan Aceh dari dalam.

Mereka yang duduk di kursi birokrasi, para pemangku kebijakan yang bersumpah atas nama Tuhan dan rakyat, kini menjelma laksana Tupai Teungku Malem.Dari luar, penampilan mereka begitu anggun dan bersahaja. Gaya bicaranya santun penuh retorika kemanusiaan, kopiahnya tegak mencerminkan marwah, dan gelarnya mentereng laksana seorang Teungku yang alim.

Mereka dipandang sebagai pelindung dan pemandu arah masa depan rakyat. Namun, layaknya karakter Tupai Teungku Malem—si peluncur malam yang bergerak sunyi di kegelapan—perilaku asli mereka justru bertolak belakang saat lampu sorot publik padam.

Di bawah kegelapan transaksi politik dan di balik rimbunnya dinding pembagian proyek, para pejabat ini “meluncur” dengan sangat halus dari satu dahan anggaran ke dahan anggaran lainnya. Gerakannya begitu senyap, rapi, dan nyaris tak menyisakan suara, menilap hak-hak rakyat atas nama kemajuan daerah. Mereka bertindak seolah-olah “sopan” dan tidak merusak di siang hari, namun begitu malam tiba, kebijakan yang lahir dari tangan mereka justru mematikan masa depan ekonomi masyarakat bawah.

Saat kemiskinan melonjak, stunting meningkat, dan pembangunan mandek, mereka dengan lihai melompat mencari kambing hitam, bersembunyi di balik tameng regulasi pusat atau alasan-alasan politis lainnya. Mereka lupa pada petuah indatu: sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat ia akan jatuh ke tanah jua.

Kedaulatan Aceh yang direbut dengan darah kini hanya menjadi panggung akrobat bagi para pejabat yang berwajah alim namun berhati serakah. Jika keserakahan malam hari ini terus dibiarkan bergerak senyap, maka kedaulatan Aceh tak lebih dari sekadar kulit pembungkus dari sebuah buah yang isinya telah habis digerogoti.

Share with your friends

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *