Meunyö Na U Ta Kureuek Minyeuk, Meunyö Na Teubèe Ta Peurah Ie

Menggali Potensi Kemandirian Ekonomi dan Kreativitas Generasi Muda Aceh

Oleh : Afifuddin

Kalau kita bicara soal Aceh, kadang yang terlintas di kepala orang luar cuma sejarah perang, tsunami, atau syariat Islamnya saja. Padahal, tanoh mulia ini punya warisan yang tak kalah mahal, yaitu mentalitas masyarakatnya.

Orang tua kita dulu punya cara yang luar biasa halus tapi menohok untuk mendidik mental anak-cucunya lewat sebuah hadih maja: “Meunyö na u ta kureuek minyeuk, meunyö na teubèe ta peurah ie, meunyö na akai ta mita beudeuet.”Secara gampangnya, kalimat ini ngajarin kita: kalau ada kelapa, ya diperas minyaknya. Kalau ada tebu, ya diambil air manisnya. Tapi kalau ditarik ke kehidupan sekarang, narit maja ini sebenarnya tamparan keras buat aneuk muda Aceh.

Pesannya simpel tapi dalam: selagi kita punya potensi alam dan dikasih akal sehat sama Tuhan, haram hukumnya kalau cuma duduk berpangku tangan.Jujur saja, tantangan kita hari ini sudah beda. Kita gak bisa lagi pakai mentalitas lama yang dikit-dikit meugantung bak gob—dikit-dikit berharap sama bantuan pemerintah, atau mindset-nya cuma mentok pengen jadi PNS. Lapangan kerja itu kita yang jemput, bahkan kalau bisa, kita yang ciptakan sendiri dengan kreativitas.

Coba perhatikan tempat ngopi di sekitar kita sekarang. Warung kopi bukan lagi sekadar wadah buat peugah haba kosong tanpa arah. Di sana, banyak anak muda yang sibuk di depan laptopnya, mengelola bisnis online hingga menembus pasar luar negeri. Kekayaan mentah di tanah kita ini melimpah, tapi sedang menangis menunggu sentuhan kreativitas. Potensi itu sudah terpampang nyata di depan mata, tinggal kita saja yang musti jeli mita jalan (cari celah).

Aneuk muda Aceh harus sadar, sangat memalukan kalau kita cuma jadi penonton di rumah sendiri karena malas berpikir!Bagi kita di Aceh, kemandirian ekonomi itu bukan cuma soal pamer kekayaan. Ini soal harga diri dan martabat. Ketika anak mudanya bisa mandiri secara finansial tanpa menabrak nilai agama dan adat, di situlah marwah daerah kita ikut naik.

Jadi, buat kita para aneuk muda Aceh, yuk kurangi ngeluh dan mulai bergerak. Modal kita itu bukan melulu soal uang atau modal besar, tapi tekad dan akal yang mau terus diasah. Selagi kelapa dan tebunya ada di tanah kita sendiri, mari kita kelola dengan cara terbaik kita. Beusaboh pakat, tanyoe bangoen nangroe!

Share with your friends

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *