Cahaya Sedekah Jumat dari SDIT Assalam Jeunieb: Menyapa Duka Seorang Ayah Penopang Dua Anak di Beurawang

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.”

Kalimat itu seolah hidup dan berdenyut di lingkungan SDIT Assalam Jeunieb, tatkala sekelompok guru dan siswa berangkat menelusuri jalanan berdebu menuju Gampong Beurawang, Kecamatan Jeumpa, Kabupaten Bireuen.

Hari itu, Kamis (16/10/2025), langit memayungi langkah mereka dengan redup mendung yang lembut. Namun di balik kesederhanaan perjalanan itu, tersimpan makna yang jauh lebih dalam dari sekadar kunjungan sosial ia adalah gerak yang lahir dari pendidikan hati.

Di antara hamparan sawah dan rumah-rumah kayu sederhana, rombongan kecil dari SDIT Assalam Islamic School berhenti di sebuah rumah berdinding papan. Rumah itu tampak ringkih, berdiri di atas sebidang tanah yang bukan miliknya.

Di sanalah Ramlan (35) tinggal bersama dua anaknya—Muhammad Firza yang baru duduk di kelas II SD dan adiknya Zahya yang baru mengenal huruf hijaiyah dari bibir mungilnya.

Ramlan bukan orang asing bagi warga Beurawang. Ia adalah tukang bangunan, seorang ayah yang tabah, sekaligus sosok yang memikul duka panjang. Istrinya, almarhumah Nurlena (30), wafat di bulan suci Ramadhan.

Sejak saat itu, beban rumah tangga berpindah seluruhnya ke pundak Ramlan. Dua anak kecil yang setiap hari menatapnya dengan tatapan penuh harap, menjadi alasan utama ia terus bertahan, sekalipun hidupnya serba terbatas.

“Waktu istri saya meninggal dunia, saya seakan kehilangan separuh napas,” ujar Ramlan lirih, menahan getar di suaranya. “Tapi anak-anak ini… merekalah kekuatan saya untuk tetap bangun setiap pagi.”

Langkah Menuju Beurawang

Kepala SDIT Assalam Islamic School Jeunieb, Ustaz Samir Sabri, memimpin langsung kegiatan Sedekah Jumat kali ini.

Bersama para guru dan siswa, beliau membawa amanah kebaikan berupa sembako dan sejumlah uang tunai yang dikumpulkan dari para siswa melalui program donasi mingguan.

Program ini, menurut beliau, bukan sekadar kegiatan sosial. Ia adalah media pendidikan ruhani. Di SDIT Assalam, anak-anak diajarkan bahwa sedekah bukanlah pemberian dari yang lebih kepada yang kurang, melainkan bentuk penyucian hati dari kelekatan dunia.

“Sedekah Jumat kami bukan hanya berbagi harta, tapi juga menanamkan kesadaran bahwa hidup harus bermanfaat,” tutur Ustaz Samir. “Kami ingin anak-anak belajar, bahwa tangan yang memberi tidak akan pernah kehilangan keberkahan.”

Ketika bantuan diserahkan, suasana menjadi haru. Ramlan berdiri memeluk kedua anaknya. Wajahnya yang legam oleh terik kerja menunduk, seakan menahan air mata yang enggan jatuh di hadapan banyak orang.

“Istri saya meninggal di bulan suci Ramadan,” katanya pelan, “setiap kali saya pergi bekerja, anak-anak saya titipkan pada kakak saya di desa ini juga. Saya tidak punya banyak, tapi saya bersyukur karena masih ada orang-orang baik seperti kalian yang peduli.”

Kata-kata itu sederhana, namun mampu melunakkan hati siapa pun yang mendengar.

Para siswa yang hadir belajar satu pelajaran besar hari itu: bahwa setiap pemberian kecil dapat menjadi penopang kehidupan seseorang yang tengah berjuang di ujung daya.

Kesaksian Sang Keuchik

Keuchik Gampong Beurawang, Adnan AR (57), yang turut menyaksikan penyerahan sedekah itu, menyampaikan terima kasih atas perhatian yang diberikan SDIT Assalam Jeunieb. Ia menuturkan, Ramlan termasuk warga yang layak dibantu karena kondisi hidupnya yang serba terbatas.

“Rumah ini memang milik Ramlan, tapi tanahnya milik orang lain,” jelas Keuchik Adnan. “Karena keterbatasan ekonomi, ia belum mampu mendirikan rumah di tanahnya sendiri. Bantuan dari SDIT Assalam ini sangat berarti, bukan hanya dari sisi materi, tapi juga moral.”

Ia menambahkan, kehadiran lembaga pendidikan Islam yang peduli terhadap masyarakat sekitar menunjukkan bahwa dakwah tidak hanya disampaikan lewat kata, tapi juga perbuatan nyata.

Dari Barisan Muda Umat ke SDIT Assalam

Program Sedekah Jumat di SDIT Assalam Jeunieb sejatinya merupakan lanjutan dari semangat sosial yang pernah digelorakan oleh Barisan Muda Umat (BMU) di bawah bimbingan almarhum Tu Sop Jeunieb. Dari tradisi itulah, semangat memberi dan melayani tumbuh di kalangan guru dan siswa.

“Spirit itu masih kami pegang sampai sekarang,” kata Ustaz Samir. “Kami ingin menanamkan nilai yang sama: bahwa ilmu harus melahirkan amal, dan amal harus melahirkan keberkahan.”

Beliau menuturkan, sebelumnya sekolah juga telah menyalurkan sedekah untuk pembangunan masjid di beberapa kecamatan seperti Pandrah, Simpang Mamplam, Samalanga, dan Peudada. Program ini dijalankan secara bergiliran, agar manfaatnya merata dan tidak hanya berhenti di satu titik.

Salah satu siswa, Askar, yang ikut serta dalam kegiatan tersebut, menyampaikan kesannya dengan polos namun penuh makna. “Semoga Bang Ramlan diberi rezeki yang mudah dan bisa punya rumah sendiri,” katanya. Kalimat itu sederhana, namun menjadi cermin bahwa pendidikan Islam sejati adalah yang mampu menumbuhkan empati sejak dini.

Di SDIT Assalam, setiap Jumat bukan hanya hari libur rohani, melainkan kesempatan untuk melatih anak-anak agar menjadi insan yang sadar sosial. Mereka diajak memahami bahwa sedekah tidak mengurangi harta, melainkan menambah ketenangan. Bahwa membantu sesama bukan kewajiban tambahan, melainkan bagian dari iman yang hidup.

Jejak Spirit Babussalam dalam Gerak Assalam

Semangat SDIT Assalam Jeunieb ini seakan menyerap ruh dari tradisi Babussalam Al-Aziziyah. Di lingkungan dayah seperti Babussalam, setiap gerak kebaikan selalu diikat oleh niat lillah (karena Allah). Begitu pula di Assalam, langkah sosial mereka bukan sekadar formalitas institusi, melainkan bentuk ibadah berjamaah.

Tak mengherankan jika kegiatan seperti Sedekah Jumat menjadi wadah penyubur adab di kalangan siswa. Mereka belajar menghargai setiap butir nasi, memahami jerih payah orang tua, dan menumbuhkan kasih sayang kepada sesama.

Dalam bahasa dayah, amal seperti ini disebut ‘amalun saleh yasru min qalbin saleh’ (amal baik yang lahir dari hati yang telah dibersihkan). Inilah yang membedakan pendidikan Islam dari sekadar sistem akademik: ia mendidik hati sebelum mendidik akal.

Ketika pendidikan modern sering kali diukur dari angka ujian dan prestasi kognitif, SDIT Assalam justru melangkah dengan ukuran yang lebih halus—kepekaan. Kepala sekolahnya memahami bahwa di tengah derasnya arus dunia digital dan persaingan akademik, anak-anak perlu disadarkan bahwa keberhasilan sejati adalah saat mereka mampu merasakan duka orang lain.

Program seperti Sedekah Jumat menjadi alat untuk mengembalikan dimensi spiritual dalam pendidikan. Ia menghubungkan antara dunia sekolah dan dunia nyata, antara pelajaran fikih dan praktiknya dalam kehidupan sosial.

Jejak yang Akan Terus Hidup

Menjelang siang, rombongan SDIT Assalam berpamitan. Anak-anak melambaikan tangan, sementara Ramlan berdiri di depan rumahnya dengan senyum tipis. Langit yang semula mendung tampak sedikit cerah. Ada sesuatu yang berubah di udara—mungkin karena sedekah yang tulus selalu mengundang rahmat.

Di perjalanan pulang, salah seorang guru berbisik, “Inilah pendidikan sejati. Kita tidak sedang mengajar, tapi sedang belajar.”

Ucapan itu menjadi simpul makna dari seluruh kegiatan hari itu: bahwa memberi bukan hanya untuk orang lain, melainkan juga untuk membersihkan diri sendiri.

Cahaya Amal sebagai Sumber Kehidupan Pendidikan Islam

Kisah di Beurawang ini mengajarkan bahwa sedekah bukanlah peristiwa tunggal, melainkan rangkaian cinta yang berkelanjutan. SDIT Assalam Jeunieb telah membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu menjadi pelopor kepedulian sosial yang berakar pada nilai-nilai Qur’ani.

Dari tangan-tangan kecil siswa, lahirlah kepekaan yang besar. Dari niat tulus para guru, mengalir cahaya kasih yang menembus batas ruang kelas. Dan dari langkah seorang kepala sekolah yang sederhana, terlukis harapan bahwa setiap Jumat akan menjadi hari tumbuhnya kebaikan baru.

Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطَايَا كَمَا يُطْفِىءُ الْمَاءُ النَّارَ  

“Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi)

Maka selama masih ada api kesulitan di hati sesama, akan selalu ada air kesejukan dari tangan-tangan yang mau berbagi.

Dan dari Jeunieb tanah yang subur dengan ilmu dan amal cahaya sedekah itu akan terus berkelindan, menjadi saksi bahwa pendidikan Islam sejati bukan hanya mengajarkan membaca, tetapi juga menumbuhkan cinta kepada sesama.

Home » Cahaya Sedekah Jumat dari SDIT Assalam Jeunieb: Menyapa Duka Seorang Ayah Penopang Dua Anak di Beurawang

Share with your friends

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *